Steam, Metode Belajar Inovatif Untuk Mendorong Anak Berpikir Kritis

Written by Gyunam on July 1, 2020 in Beberapa langkah untuk menjadi orangtua yang sigap with no comments.

Guru atau konselor tidak terjebak dalam logika “mengisi gelas kosong”, indoktrinasi dan membuka kemungkinan “penghakiman” bagi pengalaman atau opini tertentu. Maka, partisipasi haruslah menjadi salah satu ukuran penting dalam pemberian layanan tentang pendidkikan seks. Sebagai salah satu komponen bangsa strategis, Perguruan Tinggi beserta jajaran civitas akademikanya memiliki peran, tugas dan tanggung jawab yang sangat strategis dalam membangkitkan kembali wawasan kebangsaan untuk memperkuat watak dan karakter bangsa. Kecerdasan intelektual yang merupakan potensi besar yang dimiliki perguruan tinggi dan civitas akademikanya, harus mampu dikembangkan secara seimbang dengankecerdasan emosional,kecerdasan moraldankecerdasan spiritual. Keseimbangan tersebut dibutuhkan dalam proses pembangunan dan pembentukan watak dan karakter bangsa, baik secara kolektif maupun individual, berdasarkan Pancasila sebagai jati diri bangsa. Itulah yang sesungguhnya harus disadari dan dipahami oleh kalangan perguruan tinggi beserta civitas akademica-nya dalam partisipasinya untuk memperkuatan wawasan kebangsaan guna meningkatkan Ketahanan Nasional.

Kuttab sebagai lembaga pen­didikan dasar sebelum Islam telah digunakan di Makah untuk kegiatan baca tulis. Seorang sejarawan Arab mencatat bahwa orang asli Makah yang pertama mengenal tulis baca diajar oleh seorang Kristen dan bahwa jumlah orang Makah yang mengenal tulis baca ketika Islam datang adalah 17 orang. Namun menurut Ahmad Syalabi, orang yang pertama pandai tulis baca ialah Sofyan Ibnu Umaiyah Ibnu Andu Syams dan Abu Qais Ibnu Abdi Manaf ibnu Zuhrah Ibnu Kilab. Kedua orang ini mempelajarinya dari Bisyr Ibnu Abdil Malik yang belajar di Hirah. Tetapi jumlah orang yang pertama pandai tulis baca waktu lebih dari satu orang.

Cara untuk menanggapi pertanyaan kritis dari anak

Kerinduan kepada cita-cita kebangkitan dunia Islam melalui institusi madrasah telah menguatkan harapan bersama, bahwa panggung sejarah telah terbuka lebar kepada umat Islam untuk menjejalkan kembali kejayaan peradaban Islam melalui lembaga pendidikan Islam madrasah. Kata ‘madrasah’ berasal dari kosakata bahasa Arab, darasa, yadrusu, darsan, Madrasah, yang berarti tempat belajar. Madrasah selanjutnya menjadi lembaga pendidikan umum bercirikan khas keagamaan, sudah masuk sebagai bagian dari Sistem Pendidikan Nasional yang pengelolaannya berada di bawah Kementerian Agama Republik Indonesia. Seperti yang diungkap di atas, kebiasaan berpolitik tidak bisa dijauhkan dari kebiasaan berpolitik para penghuni pesantren.

Karena pada masa itu kurikulum lebih identik dengan serangkaian mata pelajaran yang harus diberikan pada murid dalam tingkat tertentu. Kota Yastrib sebagai destinasi program pe­ngem­bangan pendidikan Islam adalah sesuatu yang sangat logis mengingat kondisi Makah yang tidak bersahabat terhadap program pengembangan pendidikan Islam. Karen Amstrong menyebutkan perpindahan/hijrah ini merupakan titik balik perkembangan pendidikan Islam lebih luas. Metode pendidikan dan pengajaran ini sesuai dengan kebutuhandan situasi makah dalam kurun three tahun masa pendidikanIslam periode sembunyi-sembunyi.Di mana taktik ini dilakukan agar pemimpin Quraisytidak terlaluterkejut ataskehadiran Islam di Mekah.

Pada saat anak masih duduk di TK, orangtua tidak perlu memberi penjelasan yang terlalu detil. Untuk anak yang sudah duduk di kelas III SD ke atas, orangtua bisa mulai menjelaskannya dengan bercerita. “Buatlah suasana yang menyenangkan. Sehingga, dengan permainan itu akan membuat anak bertanya-tanya, Kok bisa begitu?” kata Kak Hendra. Dengan demikian, penting bagi orangtua untuk menambah pengetahuannya dengan berbagai informasi. Hal itu, perlu agar orangtua bisa menjawab pertanyaan anak terkait eksperimen sains yang dilakukannya.

Kondisi yang sangat sederhana itu ternyata merupakan kunci keberhasilan pendidikan Islam. Hal tersebut karena penekanan pendidikan Islam diarahkan berdasarkan pada konteks keahlian dan kemampuan peserta didik. Peserta didik dibina dan ditempa sampai benar-benar matang dan siap dengan keahlian yang diinginkan Nabi Muhammad noticed sebagai pendidik. Proses pendidikan diseting dengan menetapkan setiap indikator keberhasilan harus tercapai dengan sempurna, baru kemudian disusul dengan materi selanjutnya. Terkadang untuk satu materi Nabi sering mengulangi sampai ranah afective peserta didik mampu berkembang dengan baik. 1) Penanaman ketauhidan ke dalam jiwa para sahabat, sehingga setiap tingkah laku para sahabat mampu me­man­carkan nilai-nilai ketuhanan dalam setiap tingkah lakunya baik dalam keadaan sendiri maupun bersama-sama di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Comments are closed.